TaMaN BuKit SiGunTang

By d4nu

Bukit Siguntang
triyono-infokito

Gerbang Bukit Siguntang
Pintu gerbang masuk ke kompleks Bukit Siguntang

Bukit Siguntang termasuk salah satu objek wisata purbakala pilihan di kota Palembang. Bukit ini terletak sekitar 27 meter di atas permukaan laut, 4 km arah Barat kota Palembang, tepatnya di kelurahan Bukit Lama, Kecamatan Ilir Barat I. Dari ketinggian Bukit Siguntang kita dapat melihat panorama kota Palembang.

Di kompleks Taman Bukit Siguntang ini terdapat makam-makam keturunan raja Palembang, dan kita juga dapat menelusuri sejarah Sumatera, Melayu dan Palembang. Namun teks penjelasan yang minim membuat sejarahnya menjadi kabur.

Bukit Siguntang
Menara yang terdapat di dalam kompleks Bukit Siguntang

Bukit ini sendiri telah dikeramatkan sejak zaman Kerajaan Sriwijaya, pemerintahan perwakilan Majapahit dan Kesultanan Palembang Darussalam. Bahkan sampai sekarang pun, bukit ini masih dikeramatkan dengan diziarahi banyak pengunjung.

Beberapa situs bersejarah yang terletak di kompleks Taman Bukit Siguntang ini antara lain, makam Raja Sigentar Alam, makam Puteri Kembang Dadar, makam Panglima Bagus Kuning, makam Panglima Bagus Karang, makam Puteri Rambut Selako, makam Panglima Raja Batu Api, makam Panglima Tuan Junjungan dan makam Panglima Jago Lawang.

Konon pada zaman Kerajaan Sriwijaya, Bukit Siguntang ini merupakan tempat suci bagi penganut agama Buddha. Di sini pernah bermukim sekitar 1.000 pendeta Buddha. Sejumlah peninggalan ditemukan di kawasan bukit ini. Seperti kemudi kapal Sriwijaya yang ditemukan di kaki bukit dan prasasti Kedukan Bukit yang menjadi bukti penting keberadaan Sriwijaya.

Pada tahun 1920, di areal Bukit Siguntang ini ditemukan arca Budhha bergaya Amarawati dengan wajah tipikal Sri Lanka dan diduga berasal dari abad ke-6 Masehi. Arca tersebut kini diletakkan di halaman Museum Sultan Mahmud Badaruddin, di samping Benteng Kuto Besak (BKB).

Bukit Siguntang tercatat pernah menjadi pusat Kerajaan Palembang pada masa pemerintahan Parameswara, seorang Adipati di bawah Kerajaan majapahit. Sekitar tahun 1511, Parameswara memisahkan diri dari Majapahit dan merantau ke Malaka. Di Malaka Parameswara sempat bentrok dengan pasukan Portugis yang hendak menjajah nusantara.

Adipati Parameswara akhirnya menikah dengan putri penguasa Malaka dan diangkat menjadi raja, kemudian menurunkan raja-raja Melayu yang berkuasa di Malaysia, Singapura dan Sumatera.

Pada tahun 1573, Ki Gede Sedo ing Lautan membuat kekuatan baru dengan mendirikan Kerajaan Palembang (selanjutnya akan menjadi Kesultanan Palembang Darussalam) yang telah dirintis oleh Ki Gede ing Suro, seorang pelarian Kerajaan Pajang, Jawa Tengah. Kerajaan Palembang juga mengeramatkan Bukit Siguntang dengan mengubur jenazah Panglima Bagus Kuning dan Panglima Bagus Karang.

Kedua panglima ini berjasa memimpin pasukan kerajaan saat menundukkan pasukan Kesultanan Banten yang menyerang Palembang. Sultan Banten, Sultan Hasanuddin gugur dalam pertempuran sengit itu. [triyono-infokito]

Tinggalkan Balasan